Langsung ke konten utama

Kisah Inspiratif 1

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.

Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

_*”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab : _*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Guru Nasional Tahun 2018

      Minggu, 25 November 2018, bertempat di ruang kelas MIS Al-Ihsan Jl. Mangaan VI Gg. Prayitno Mabar, Yayasan Perguruan Al-Ihsan menyelenggarakan kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Perayaan Hari Guru Nasional ke-73 Tahun 2018. Acara ini merupakan puncak rangkaian kegiatan dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Guru Nasional ke-73 yang dilaksanakan mulai hari Jum'at, 23 November 2018. Acara berlangsung dari pukul 09.00 s/d 12.30 wib. Dihadiri oleh para siswa, guru-guru dan orang tua/wali dari siswa-siswi RA dan MIS Al-Ihsan. Turut menghadiri acara Bapak Budi Dharma, SH, Seorang Tokoh Masyarakat yang peduli terhadap dunia pendidikan, dan juga Al-Ustadz Sadzali Rais, MA, Dosen UIN-SU Medan. Kepala MIS Al-Ihsan memberikan Sambutan Ketua Yayasan Perguruan Al-Ihsan memberikan sambutan          Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Ihsan, H. Muhammad Ihsan menyampaikan bahwa MIS Al-Ihsan m...

Peringatan Hari Asyuro 1440 H

Mabar, 20 September 2018, bertempat di ruang kelas Madrasah Al-Ihsan diselenggarakan acara peringatan Hari Asyuro 10 Muharram 1440 H. Acara dihadiri oleh para siswa, Guru-guru dan Orang tua/wali siswa RA dan MIS Al-Ihsan. Bertindak sebagai Pembawa Acara, Bapak Muhammad Khaidir Nasution, S.Pd, Guru Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Ihsan. Setelah dibuka, acara dilanjutkan dengan pembacaan Ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh : Reva Felicia dan saritilawah oleh Dewi, keduanya merupakan siswa Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Ihsan. Usai mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hadirin disuguhkan dengan penampilan siswa-siswi Madrasah Al-Ihsan yang membawakan instrument lagu Assalamu'alaikum dengan alat musik tiup Pianika. Selain itu para siswa juga menampilkan nyanyian lagu-lagu religi. Selanjutnya, Ketua Yayasan Perguruan Al-Ihsan memberikan sambutan. Dalam sambutannya Hj. Suryati Amri, selaku Ketua Yayasan Perguruan Al-Ihsan mengatakan bahwa Madra...

Upacara HUT RI Ke-73

Jum'at, 17 Agustus 2018, Madrasah Al-Ihsan melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di pekarangan Madrasah. Diikuti oleh para siswa dan guru-guru Madrasah Al-Ihsan. Upacara berlangsung khidmat dan tertib, diawali dengan gladi bersih sebelum pelaksanaan Upacara. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Swasta Al-Ihsan, H. Muhammad Ihsan, S.Si, S.Pd. Setelah membacakan Teks Proklamasi, Pembina Upacara memberikan amanat yang intinya mengajak Guru-guru dan seluruh siswa untuk mengisi kemerdekaan Bangsa Indonesia dengan Belajar keras dan Menuntut Ilmu dengan ikhlas. Sehingga kelak para siswa menjadi generasi penerus bangsa Indonesia yang hebat dan bermartabat. Usai upacara Panitia Perayaan HUT RI Ke-73 Madrasah Al-Ihsan mengumumkan pemenang perlombaan-perlombaan yang telah diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RI Ke-73. Dirgahayu RI Ke-73.